Minggu, 17 Juni 2018
TAHUKAH KITA ?
Tahukah Anda?
Bahwa ikan yang ribuan tahun lalu menelan Nabi Yunus AS itu ternyata masih hidup sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat. Hal ini sudah dijelaskan dalam al-Qur'an: andai Yunus itu tidak beristighfar, tentu ia akan tinggal dalam perut ikan tersebut sampai hari kebangkitan..
Tahukah Anda?
Bahwa janin semasa dalam kandungan perut ibunya, dia dilihatkan perjalanan hidupnya mulai dari lahir sampai mati, karena itu, terkadang ketika kita berkunjung ke beberapa tempat yang baru, tapi seolah tempat tersebut sudah tidak asing bagi kita.
Tahukah Anda?
Di saat bersin, seluruh anggota tubuh kita berhenti berfungsi, seolah mati, ini terjadi dalam hitungan detik, setelah itu berfungsi normal kembali, inilah kenapa dalam islam di sunnahkan membaca alhamdulillah setelah bersin, sebagai ungkapan syukur atas berfungsinya kembali seluruh anggota badan kita.
Taukah Anda?
Menguap itu bukan tanda bahwa kita mengantuk, tapi itu adalah pertanda bahwa tubuh kita butuh tambahan oksigen
Tahukah Anda?
Bahwa memakan kurma dalam jumlah genap itu akan menghasilkan gula darah, karena itu Rasulullah menganjurkan kita untuk memakannya dalam jumlah ganjil, agar berubah menjadi karbohidrat.
Taukah Anda?
Bahwa tepat setelah dikumandangkannya azan itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.
Taukah Anda?
Di mana dosa-dosa kita diletakkan ketika kita shalat?
Nabi Muhammad saw bersabda: "sesungguhnya seorang hamba ketika menunaikan shalat, dia membawa serta semua dosa-dosanya, kemudian dosa-dosa itu d taruh di atas kepala dan kedua pundaknya, maka ketika tiap kali ia ruku' atau sujud berjatuhanlah dosa-dosa tersebut".
Wahai orang-orang yang biasa tergesa-gesa dalam shalatnya, tenanglah... dan tahanlah lebih lama ruku' dan sujudmu, agar lebih banyak lagi berguguran dosa-dosamu.
Taukah Anda?
Diceritakan ada seorang wanita solehah yang meninggal, maka tiap kali penduduk desa ziarah kubur, mereka mencium harumnya mawar dr dalam kubur, kemudian suaminya menjelaskan, bahwa istrinya itu semasa hidup selalu membaca surah al-mulk, setiap mau tidur. Sesungguhnya surat al-mulk itu menyelamatkan dari siksa kubur.
Taukah Anda?
Ketika kita membaca ayat kursi tiap usai shalat, maka tidak ada penghalang antara kita dan surga, kecuali maut.
Taukah Anda?
Bahwa para malaikat mendoakan kita ketika usai shalat, karena itu jangan terburu untuk beranjak dari posisi duduk shalat kita.
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Please Like and Share
Selasa, 12 Juni 2018
Khotbah Idul Fitri 1439 H / 2018 M : PUASA RAMADHAN MEMBENTUK KESALEHAN SOSIAL
PUASA RAMADHAN
MEMBENTUK KESALEHAN SOSIAL
Oleh: H.Misbahuddin Salamu, S.Ag., MA
السلا م عليكم و ر حمة ا لله و بر كا ته
الله اكبر الله اكبر الله اكبر (3 x)
لااله الا الله ولله اكبر الله اكبر ولله الحمد
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ
وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ
مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ.
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ لأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah Idul Rahimakumu Allahu
Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Agung, Dzat Maha Suci. Dzat Yang Maha Kaya dari Pujiannya hamba-Nya yang memuji dan Maha Kaya dari Syukurnya orang-orang yang bersyukur, hanya dengan izin-Nya sehingga sekarang kita sedang berada di hari Idul Fitri, yang menjadi impian seluruh umat Islam yang telah menunaikan berbagai ibadah di bulan suci Ramadhan, yang mengembalikan setiap mukmin sejati pada fithrah dan kesucian dirinya.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Inilah hari, dimana Rasulullah saw. suatu hari pernah menunda pelaksanaan sholat Idul Fitri, karena dalam perjalanan menuju ke tempat shalatnya beliau melihat seorang anak kecil yang duduk bersedih. Rasulullah saw. segera menghampiri lalu bertanya mengapa ia tidak ikut bergembira ria seperti anak-anak lainnya, maka anak perempuan itu menjawab, aku bersedih karena tak punya ayah dan ibu lagi seperti mereka semua. Beliau langsung memeluk dan menanyakan kepada anak yatim piatu itu, maukah engkau menjadikan saya, Muhammad sebagai ayahmu, Siti Aisyah sebagai ibumu dan Fatimah Az-Zahra sebagai kakakmu.? Dengan sukacita anak itu mengiyakan tawaran itu. Rasulullah saw. lalu membawa anak itu kembali ke rumah beliau dan meminta isterinya Siti Aisyah RA. untuk memandikan dan memberikannya pakaian yang baik. (riwayat sahabat Anas bin Malik ra.)
Subahanallah, begitulah Rasul menunjukkan bagaimana menggembirakan semua orang dlaif pada hari yang indah dan fithrah ini. Demikianlah Rasulullah saw. sebagai pemimpin teladan, bukan dengan kata-kata dan slogan semata, tapi dengan praktek nyata menunjukkan yang perhatian dan tanggung-jawabnya sebagai khadimul ummah terhadap rakyatnya.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Kita baru saja keluar dari sebuah madrasah ruhaniyah yang besar, yakni bulan suci Ramadhan, dimana kita telah dididik dan menempa diri menundukkan hawa nafsu, agar hawa nafsu itu tidak memperbudak diri kita, melainkan kita-lah yang mestinya mengendalikannya dalam kehidupan ini. Jika benar demikian halnya, kita lakukan dalam bulan suci Ramadhan, maka mulai hari ini, kita diumpamakan oleh Rasul ibarat anak bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, yang bersih dari dosa dan noda.
Keadaan yang demikian itu adalah merupakan sebuah pra-kondisi yang amat kita butuhkan untuk terus membangun kehidupan hari esok yang lebih baik, dengan fikiran baru, semangat baru, sehingga diharapkan masa datang bisa lebih baik dan bahkan semakin berkualitas dalam naungan ridha Allah swt. Visi kehidupan bersama yang perlu kita wujudkan pada masa kini dan akan datang, adalah kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, bukan kehidupan yang sama saja dengan atau malah lebih buruk dari yang sebelumnya. Hal ini sejalan dengan ungkapan arif yang masyhur:
من كان يومه مثل أمسه فهو خاسر، ومن كان يومه شرا من أمسه فهو هالك ومن كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح.
Kehidupan yang lebih baik yang perlu kita bangun bersama, secara paralel dan berdimenasi mental-spiritual dengan kesejahteraan materil-duniawi, yang dirasakan secara berkeadilan oleh masyarakat seluruhnya.
Semoga dengan berkah bulan suci ramadhan dan seluruh amaliyah di dalamnya dapat mengangkat motivasi kita untuk lebih meng-internalisasi dan menghayati makna dan nilai ibadah yang kita amalkan, sehingga dapat menanamkan stabilitas temperature bathin sebagai hamba Allah. Sebab keyakinan itu dalam qalbu, akan melahirkan sebuah spirit baru berupa sikap ikhlas berbuat yang terbaik bagi sesama hamba Allah swt.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Kehidupan yang lebih baik yang perlu kita bangun bersama, paling kurang haruslah mencakup empat aspek fundamental, yakni:
Pertama, adalah hidup berkualitas yang meningkat, bukanlah semata dalam ukuran jasmaniah dan materi belaka. Tapi kualitas hidup masyarakat haruslah ditunjukkan oleh indikator-indikator nyata dalam aspek materil dan spiritual. Masyarakat harus terdidik dan berahlak mulia, masyarakat harus sehat jasmaniah dan ruhaniah, masyarakat harus makmur dalam keadilan. Sebenarnya, kata kunci (key word) untuk mencapai keadaan seperti ditegaskan oleh Allah swt. Qur’an, A’raf : 96 :
Dengan amat jelas Allah swt. meletakkan dasar perbaikan itu bahwa jika masyarakat sebuah negeri ingin memperoleh berkah baik dari langit mau pun dari bumi, maka syaratnya yang utama adalah keimanan dan takwa masyarakat di negeri itu.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Kedua, Nilai dan Spirit kebersamaan. Kehidupan yang lebih baik, bukan hanya dinikmati oleh individu atau kelompok tertentu, tetapi seluruh masyarakat, ibaratnya dalam sebuah rumah besar bersama, dimana kualitas hidup meningkat bersama secara proporsional dan adil. Masyarakat harus merasa nyaman dan aman di dalam rumahnya sendiri, karena berkah Allah melimpah kepada mereka dari langit dan dari bumi, atau dalam makna praktisnya mengalir dalam seluruh aspek dan sektor kehidupan.
Untuk mewujudkan kedua hal tersebut, laa budda mestilah, diperlukan syarat ketiga, yaitu adanya sentuhan tangan pemimpin yang memiliki jiwa fithrah (bersih) untuk menata dan mengelolanya. Pemimpin yang fithrah bersih adalah syarat mutlak, sebab bila bukan dengan pemimpin yang bersih, maka sulit mengharapkan akan turunnya berkah dari Allah. Memang bisa saja sebuah negeri tampak maju secara lahiriah, namun bila dikelola oleh yang tidak bersih, mulai dari cara memperoleh jabatan, sampai pada menggunakannya, maka berkah Allah akan jauh. Bahkan, betapa ngerinya sebuah gambaran sunnatullah diungkap dalam QS. Al-Isra’: 16 :
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang yang hiedup mewah di negeri itu mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Apa yang diperingatkan oleh Allah swt. dalam ayat tersebut adalah sebuah sunnatullah, sebuah hukum besi sejarah yang pasti akan berlaku bila kondisinya terpenuhi. Bila para elite di sebuah negeri berlaku fasiq, maka Allah menghancurkannya sehancur-hancurnya, Na’udzu billahi min dzalik.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah Ied Rahimakumu Allah
Keempat, urgensi Uswah keteladanan. Rasulullah saw. baik sebagai Nabi dan Rasul maupun sebagai pemimpin menunjukkan keteladanan, bahwa beliau peduli dan care kepada rakyat banyak, khususnya mereka yang fakir miskin dan yatiem. Bahkan beliau sendiri sebagai pemimpin sengaja memilih standar hidup miskin dan gaya hidup yang sama dengan orang-orang miskin. Beliau tidak hanya berslogan tentang pemberantasan kemiskinan, sembari bertahta di atas singgasana mewah dan sama sekali tidak merasakan denyut nadi orang miskin. Beliau pernah mengganjal perut dengan batu karena lapar. Beliau menjahit sendiri bajunya yang sobek, beliau menambal kasutnya yang bolong.
Itulah contoh kecil bagaimana Rasulullah saw. mencurahkan perhatian kepada orang miskin dan rakyat kebanyakan. Kata kunci dari semua keteladanan beliau diungkap oleh Al-Qur’an, surah al-Taubah : 128 sebagai berikut :
Bercermin pada keteladanan Rasulullah saw, maka syarat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik itu, akan mampu kita bangun di negeri ini, bila pembangunan dan ekonomi benar-benar berpihak pada rakyat. Ekonomi kerakyatan tidak hanya menjadi slogan semata, pemanis bibir saja, tetapi harus benar-benar menjadi perhatian untuk dilaksanakan. Hal ini menjadi sebuah syarat mutlak agar tidak terjadi ketimpangan ekonomi yang akan membawa dampak buruk yang banyak seperti kecemburuan social, kejahatan yang marak dan ketidak-tenteraman dalam kehidupan bermasyarakat.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah Ied Rahimakumu Allah
Kaum Muslimin, idealnya dengan berkah Ramadhan, tunjukkanlah implikasi sosial dari ajaran-ajaran agama. Tunjukkan, bahwa dengan nilai-nilai Islam yang kita anut, dan karena kita bagian terbesar dari penduduk di negara ini, maka perilaku jujur dan disiplin tampak dalam masyarakat kita. Tentu sangat ironis, bukan, negeri yang mayoritas Islam, dan paling besar penduduk Muslimnya di seluruh dunia, dikritik sebagai termasuk negeri-negeri yang paling subur praktek korupsinya, sebagai negeri yang tingkat kedisiplinan warganya sangat rendah.
Kita hadir di lapangan ini, duduk bersimpuh di atas sajadah, dengan penuh kesadaran betapa lemahnya kita sebenarnya. Kita hanya bisa menjadi kuat bila selalu bersama Allah swt. Itulah kesadaran yang kita wujudkan dalam kalimat “laa hawla walaa quwwata illaa billah”. Dengan kelemahan itulah, maka kita harus sadar pentingnya kita mengabdi Allah swt untuk menuntun dan menolong kita dalam kehidupan ini. Karena itulah Allah menurunkan agamanya. Dengan menjalankan ajaran agama itulah kita bisa menjadi masyarakat yang tidak hanya maju dan makmur secara materil seperti negeri-negeri maju lainnya, tetapi juga sekaligus meraih kekayaan spiritual yang mendatangkan berkah dan mardhatillah.
با رك الله لي ولكم فى القران العظيم
ونفعنى واياكم بما فيه من الا يات والذكرالحكيم.
اقول قولى واستغفروه انه هو الغفورالرحيم
الخطبة الثانية
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×)
اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ
وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
اللَّهُمَّ وَارِض عَنِ الْخَلْقاء الرَّشدين أبىُ بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمان وَعلِي
و عن الستة اليَاقيَن مِن العَشرة الكِرَام.
اللَّهمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الاَحْيَاء مِنْهُم وَالْاَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيبٌ مُجِبُ الدَّعْوَا وَقَاضَ الحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِيْمينَ- رَبَّنَا اَتِنَا فَي الدُّنْيّا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّار وَادخُلنَا الجَنَّة مَعَ الْاَبْرَرْ.
اَمِيْنْ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
KHUTBAH IDUL FITRI 1439 H / 2018
PUASA RAMADHAN
MEMBENTUK KESALEHAN SOSIAL
Dipublikasikan Oleh :
BIDANG PENERANGAN AGAMA, ZAKAT DA N WAKAF
KANWIL KEMENTERIAN AGAMA SULAWESI SELATAN
TAHUN 2018
KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Jalan Nuri No. 53 Makassar 90122
Telp (0411) 873459, 872219; Faksimili (0411) 873459, 872219
Website: www.sulsel.kemenag.go.id
KATA SAMBUTAN
Kepala Bidang Penerangan Zakat dan Wakaf
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel
Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Kami menyambut baik terbitnya Khutbah Idul Fitri 1439 H/ 2018 yang berjudul : Puasa Ramadhan Membentuk Kesalehan Sosial yang disusun oleh Seksi Perenangan dan Penyuluhan Agama Islam Bidang Penerangan Agama Islam Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ini.
Selanjutnya kami menganjurkan para Khatib untuk membacanya kemudian mengembangkan dan menyesuaikan dengan materinya sesuai situasi dan kondisi yang dihadapai.
Semoga khutbah ini bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas umat Islam dan menjadi amal ibadah. Amien
Wassaalam,
Makassar, 6 Juni 2018
Kepala Bidang Penerangan Kepala Seksi Penerangan dan
Agama Islam, Zakat dan Wakaf Penyuluhan Agama Islam
Drs. H. Rappe, M.Pd H.Misbahuddin Salamu, MA
MEMBENTUK KESALEHAN SOSIAL
Oleh: H.Misbahuddin Salamu, S.Ag., MA
السلا م عليكم و ر حمة ا لله و بر كا ته
الله اكبر الله اكبر الله اكبر (3 x)
لااله الا الله ولله اكبر الله اكبر ولله الحمد
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَه، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ
وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ
مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ.
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ لأَمِيْن، اللهم فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِ الْكِرَامِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah Idul Rahimakumu Allahu
Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Agung, Dzat Maha Suci. Dzat Yang Maha Kaya dari Pujiannya hamba-Nya yang memuji dan Maha Kaya dari Syukurnya orang-orang yang bersyukur, hanya dengan izin-Nya sehingga sekarang kita sedang berada di hari Idul Fitri, yang menjadi impian seluruh umat Islam yang telah menunaikan berbagai ibadah di bulan suci Ramadhan, yang mengembalikan setiap mukmin sejati pada fithrah dan kesucian dirinya.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Inilah hari, dimana Rasulullah saw. suatu hari pernah menunda pelaksanaan sholat Idul Fitri, karena dalam perjalanan menuju ke tempat shalatnya beliau melihat seorang anak kecil yang duduk bersedih. Rasulullah saw. segera menghampiri lalu bertanya mengapa ia tidak ikut bergembira ria seperti anak-anak lainnya, maka anak perempuan itu menjawab, aku bersedih karena tak punya ayah dan ibu lagi seperti mereka semua. Beliau langsung memeluk dan menanyakan kepada anak yatim piatu itu, maukah engkau menjadikan saya, Muhammad sebagai ayahmu, Siti Aisyah sebagai ibumu dan Fatimah Az-Zahra sebagai kakakmu.? Dengan sukacita anak itu mengiyakan tawaran itu. Rasulullah saw. lalu membawa anak itu kembali ke rumah beliau dan meminta isterinya Siti Aisyah RA. untuk memandikan dan memberikannya pakaian yang baik. (riwayat sahabat Anas bin Malik ra.)
Subahanallah, begitulah Rasul menunjukkan bagaimana menggembirakan semua orang dlaif pada hari yang indah dan fithrah ini. Demikianlah Rasulullah saw. sebagai pemimpin teladan, bukan dengan kata-kata dan slogan semata, tapi dengan praktek nyata menunjukkan yang perhatian dan tanggung-jawabnya sebagai khadimul ummah terhadap rakyatnya.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Kita baru saja keluar dari sebuah madrasah ruhaniyah yang besar, yakni bulan suci Ramadhan, dimana kita telah dididik dan menempa diri menundukkan hawa nafsu, agar hawa nafsu itu tidak memperbudak diri kita, melainkan kita-lah yang mestinya mengendalikannya dalam kehidupan ini. Jika benar demikian halnya, kita lakukan dalam bulan suci Ramadhan, maka mulai hari ini, kita diumpamakan oleh Rasul ibarat anak bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, yang bersih dari dosa dan noda.
Keadaan yang demikian itu adalah merupakan sebuah pra-kondisi yang amat kita butuhkan untuk terus membangun kehidupan hari esok yang lebih baik, dengan fikiran baru, semangat baru, sehingga diharapkan masa datang bisa lebih baik dan bahkan semakin berkualitas dalam naungan ridha Allah swt. Visi kehidupan bersama yang perlu kita wujudkan pada masa kini dan akan datang, adalah kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, bukan kehidupan yang sama saja dengan atau malah lebih buruk dari yang sebelumnya. Hal ini sejalan dengan ungkapan arif yang masyhur:
من كان يومه مثل أمسه فهو خاسر، ومن كان يومه شرا من أمسه فهو هالك ومن كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح.
Kehidupan yang lebih baik yang perlu kita bangun bersama, secara paralel dan berdimenasi mental-spiritual dengan kesejahteraan materil-duniawi, yang dirasakan secara berkeadilan oleh masyarakat seluruhnya.
Semoga dengan berkah bulan suci ramadhan dan seluruh amaliyah di dalamnya dapat mengangkat motivasi kita untuk lebih meng-internalisasi dan menghayati makna dan nilai ibadah yang kita amalkan, sehingga dapat menanamkan stabilitas temperature bathin sebagai hamba Allah. Sebab keyakinan itu dalam qalbu, akan melahirkan sebuah spirit baru berupa sikap ikhlas berbuat yang terbaik bagi sesama hamba Allah swt.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Kehidupan yang lebih baik yang perlu kita bangun bersama, paling kurang haruslah mencakup empat aspek fundamental, yakni:
Pertama, adalah hidup berkualitas yang meningkat, bukanlah semata dalam ukuran jasmaniah dan materi belaka. Tapi kualitas hidup masyarakat haruslah ditunjukkan oleh indikator-indikator nyata dalam aspek materil dan spiritual. Masyarakat harus terdidik dan berahlak mulia, masyarakat harus sehat jasmaniah dan ruhaniah, masyarakat harus makmur dalam keadilan. Sebenarnya, kata kunci (key word) untuk mencapai keadaan seperti ditegaskan oleh Allah swt. Qur’an, A’raf : 96 :
Dengan amat jelas Allah swt. meletakkan dasar perbaikan itu bahwa jika masyarakat sebuah negeri ingin memperoleh berkah baik dari langit mau pun dari bumi, maka syaratnya yang utama adalah keimanan dan takwa masyarakat di negeri itu.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Kedua, Nilai dan Spirit kebersamaan. Kehidupan yang lebih baik, bukan hanya dinikmati oleh individu atau kelompok tertentu, tetapi seluruh masyarakat, ibaratnya dalam sebuah rumah besar bersama, dimana kualitas hidup meningkat bersama secara proporsional dan adil. Masyarakat harus merasa nyaman dan aman di dalam rumahnya sendiri, karena berkah Allah melimpah kepada mereka dari langit dan dari bumi, atau dalam makna praktisnya mengalir dalam seluruh aspek dan sektor kehidupan.
Untuk mewujudkan kedua hal tersebut, laa budda mestilah, diperlukan syarat ketiga, yaitu adanya sentuhan tangan pemimpin yang memiliki jiwa fithrah (bersih) untuk menata dan mengelolanya. Pemimpin yang fithrah bersih adalah syarat mutlak, sebab bila bukan dengan pemimpin yang bersih, maka sulit mengharapkan akan turunnya berkah dari Allah. Memang bisa saja sebuah negeri tampak maju secara lahiriah, namun bila dikelola oleh yang tidak bersih, mulai dari cara memperoleh jabatan, sampai pada menggunakannya, maka berkah Allah akan jauh. Bahkan, betapa ngerinya sebuah gambaran sunnatullah diungkap dalam QS. Al-Isra’: 16 :
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang yang hiedup mewah di negeri itu mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Apa yang diperingatkan oleh Allah swt. dalam ayat tersebut adalah sebuah sunnatullah, sebuah hukum besi sejarah yang pasti akan berlaku bila kondisinya terpenuhi. Bila para elite di sebuah negeri berlaku fasiq, maka Allah menghancurkannya sehancur-hancurnya, Na’udzu billahi min dzalik.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah Ied Rahimakumu Allah
Keempat, urgensi Uswah keteladanan. Rasulullah saw. baik sebagai Nabi dan Rasul maupun sebagai pemimpin menunjukkan keteladanan, bahwa beliau peduli dan care kepada rakyat banyak, khususnya mereka yang fakir miskin dan yatiem. Bahkan beliau sendiri sebagai pemimpin sengaja memilih standar hidup miskin dan gaya hidup yang sama dengan orang-orang miskin. Beliau tidak hanya berslogan tentang pemberantasan kemiskinan, sembari bertahta di atas singgasana mewah dan sama sekali tidak merasakan denyut nadi orang miskin. Beliau pernah mengganjal perut dengan batu karena lapar. Beliau menjahit sendiri bajunya yang sobek, beliau menambal kasutnya yang bolong.
Itulah contoh kecil bagaimana Rasulullah saw. mencurahkan perhatian kepada orang miskin dan rakyat kebanyakan. Kata kunci dari semua keteladanan beliau diungkap oleh Al-Qur’an, surah al-Taubah : 128 sebagai berikut :
Bercermin pada keteladanan Rasulullah saw, maka syarat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik itu, akan mampu kita bangun di negeri ini, bila pembangunan dan ekonomi benar-benar berpihak pada rakyat. Ekonomi kerakyatan tidak hanya menjadi slogan semata, pemanis bibir saja, tetapi harus benar-benar menjadi perhatian untuk dilaksanakan. Hal ini menjadi sebuah syarat mutlak agar tidak terjadi ketimpangan ekonomi yang akan membawa dampak buruk yang banyak seperti kecemburuan social, kejahatan yang marak dan ketidak-tenteraman dalam kehidupan bermasyarakat.
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Jama’ah Ied Rahimakumu Allah
Kaum Muslimin, idealnya dengan berkah Ramadhan, tunjukkanlah implikasi sosial dari ajaran-ajaran agama. Tunjukkan, bahwa dengan nilai-nilai Islam yang kita anut, dan karena kita bagian terbesar dari penduduk di negara ini, maka perilaku jujur dan disiplin tampak dalam masyarakat kita. Tentu sangat ironis, bukan, negeri yang mayoritas Islam, dan paling besar penduduk Muslimnya di seluruh dunia, dikritik sebagai termasuk negeri-negeri yang paling subur praktek korupsinya, sebagai negeri yang tingkat kedisiplinan warganya sangat rendah.
Kita hadir di lapangan ini, duduk bersimpuh di atas sajadah, dengan penuh kesadaran betapa lemahnya kita sebenarnya. Kita hanya bisa menjadi kuat bila selalu bersama Allah swt. Itulah kesadaran yang kita wujudkan dalam kalimat “laa hawla walaa quwwata illaa billah”. Dengan kelemahan itulah, maka kita harus sadar pentingnya kita mengabdi Allah swt untuk menuntun dan menolong kita dalam kehidupan ini. Karena itulah Allah menurunkan agamanya. Dengan menjalankan ajaran agama itulah kita bisa menjadi masyarakat yang tidak hanya maju dan makmur secara materil seperti negeri-negeri maju lainnya, tetapi juga sekaligus meraih kekayaan spiritual yang mendatangkan berkah dan mardhatillah.
با رك الله لي ولكم فى القران العظيم
ونفعنى واياكم بما فيه من الا يات والذكرالحكيم.
اقول قولى واستغفروه انه هو الغفورالرحيم
الخطبة الثانية
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×)
اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَالللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ
وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ
اللَّهُمَّ وَارِض عَنِ الْخَلْقاء الرَّشدين أبىُ بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمان وَعلِي
و عن الستة اليَاقيَن مِن العَشرة الكِرَام.
اللَّهمَّ اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الاَحْيَاء مِنْهُم وَالْاَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيبٌ مُجِبُ الدَّعْوَا وَقَاضَ الحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِيْمينَ- رَبَّنَا اَتِنَا فَي الدُّنْيّا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّار وَادخُلنَا الجَنَّة مَعَ الْاَبْرَرْ.
اَمِيْنْ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
KHUTBAH IDUL FITRI 1439 H / 2018
PUASA RAMADHAN
MEMBENTUK KESALEHAN SOSIAL
Dipublikasikan Oleh :
BIDANG PENERANGAN AGAMA, ZAKAT DA N WAKAF
KANWIL KEMENTERIAN AGAMA SULAWESI SELATAN
TAHUN 2018
KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Jalan Nuri No. 53 Makassar 90122
Telp (0411) 873459, 872219; Faksimili (0411) 873459, 872219
Website: www.sulsel.kemenag.go.id
KATA SAMBUTAN
Kepala Bidang Penerangan Zakat dan Wakaf
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel
Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Kami menyambut baik terbitnya Khutbah Idul Fitri 1439 H/ 2018 yang berjudul : Puasa Ramadhan Membentuk Kesalehan Sosial yang disusun oleh Seksi Perenangan dan Penyuluhan Agama Islam Bidang Penerangan Agama Islam Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan ini.
Selanjutnya kami menganjurkan para Khatib untuk membacanya kemudian mengembangkan dan menyesuaikan dengan materinya sesuai situasi dan kondisi yang dihadapai.
Semoga khutbah ini bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas umat Islam dan menjadi amal ibadah. Amien
Wassaalam,
Makassar, 6 Juni 2018
Kepala Bidang Penerangan Kepala Seksi Penerangan dan
Agama Islam, Zakat dan Wakaf Penyuluhan Agama Islam
Drs. H. Rappe, M.Pd H.Misbahuddin Salamu, MA
Sabtu, 09 Juni 2018
MENDETEKSI KESOMBONGAN
SOMBONG adalah PENYAKIT yang sering menghinggapi kita semua. Siapa saja dan apapun status ataupun jabatan kita.
DITINGKAT SATU
Sombong disebabkan oleh FAKTOR MATERI, dimana kita merasa,
Lebih kaya,
Lebih berkuasa,
Lebih tinggi jabatan,
Lebih rupawan, dan
Lebih terhormat daripada orang lain.
DITINGKAT KEDUA
Sombong disebabkan oleh FAKTOR KECERDASAN, kita merasa,
Lebih rajin,
Lebih pintar,
Lebih kompeten,
Lebih berpengalaman,
Lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
DITINGKAT KETIGA
Sombong disebabkan oleh FAKTOR KEBAIKAN, kita sering menganggap diri,
Lebih bermoral,
Lebih pemurah,
Lebih banyak amalnya,
Lebih bersemangat berjuang dan beribadah,
Lebih banyak kontribusinya untuk umat.
Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil.
Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik, Semakin TINGGI TINGKAT KESOMBONGAN kita, semakin sulit pula kita MENDETEKSINYA.
SOMBONG karena MATERI mudah terlihat. Namun, SOMBONG karena PENGETAHUAN, apalagi SOMBONG karena KEBAIKAN, SULIT TERDETEKSI. Karena, seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam bathin kita.
Kita mungkin perlu mendeteksi kesombongan kita setiap hari. Agar kita tidak menjadi buta dengan kepongahan dan kesombongan itu sendiri.
KESOMBONGAN hanya membawa pada KEJATUHAN.
"Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat SEBESAR BIJI ZARRAH KESOMBONGAN di dalam hatinya." (HR.Muslim)
KESOMBONGAN tidak disukai oleh PENGHUNI BUMI maupun PENGHUNI LANGIT.
Tetaplah RENDAH HATI Sebab, kadang orang yang kita hadapi ternyata lebih hebat dari kita.
NutrisiJiwa@demang
Jumat, 08 Juni 2018
MEWUJUDKAN TAKWA INDIVIDU, MASYARAKAT DAN NEGARA
Buletin Kaffah_No. 044_23 Ramadhan 1439 H-8 Juni 2018 M
MEWUJUDKAN TAKWA INDIVIDU, MASYARAKAT DAN NEGARA
Saat ini kita sudah berada di sepertiga akhir Ramadhan.
Sebagaimana telah dimaklumi, shaum Ramadhan adalah salah satu sarana yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi pribadi-pribadiyang bertakwa. Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).
Namun demikian, puasa Ramadhan saja tidaklah cukup. Faktanya, selain puasa Ramadhan, Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim banyak hal agar mereka benar-benar bertakwa (la’allakum tattqun). Di antaranya:
Pertama, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk beribadah kepada Allah SWT. Inilah yang Allah SWT tegaskan:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 21).
Ibadah tentu bukan sekadar menjalankan ritualitas saja seperti shalat, shaum, zakat dan haji. Ibadah mencakup totalitas penghambaan/pengabdian kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh syariah-Nya. Inilah yang Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi (menghambakan diri) kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [52]: 56).
Mengomentari ayat di atas, Ibnu Hazm dalam kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (3/80), menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah agar mereka menjadi hamba (abdi) Allah SWT dengan melaksanakan semua hukum-Nya dan patuh pada apa saja yang telah Dia tetapkan atas mereka. Ibadah seperti inilah yang bisa mengantarkan setiap Muslim menjadi pribadi yang bertakwa.
Kedua, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menerapkan semua hukum Allah SWT, di antaranya hukum qishash. Inilah yang Allah SWT tegaskan:
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Di dalam hukum qishash itu terdapat kehidupan, wahai kaum yang berakal, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 179).
Jika hukum qishash yang menyangkut hak adami (manusia) saja wajib diterapkan, apalagi hudud yang menyangkut hak Allah—seperti hukum cambuk/rajam bagi pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, dll. Semua itu tentu lebih wajib untuk diterapkan. Penerapan hukum qishash, juga semua hukum Allah SWT yang lain, pasti akan membuat orang takut untuk berbuat dosa dan kriminal. Inilah yang antara lain ditegaskan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya, Jami al-Bayan fî Ta’wil al-Qur’an (3/382). Singkatnya, penerapan hukum-hukum Allah SWT akan memaksa siapapun untuk menjadi orang yang bertakwa.
Ketiga, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam, dan tidak mengikuti jalan-jalan selain Islam. Ini pula yang Allah SWT tegaskan:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa (QS al-An’am [6]: 153).
Menurut Imam as-Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-‘Ulum (1/495), ayat ini bermakna, bahwa Islam sebagai agama yang Allah ridhai adalah jalan yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa.
Sayang, banyak orang, meski mengaku memeluk Islam, tidak sepenuhnya mengambil jalan Islam. Dalam hal ibadah ritual mereka memang mengambil jalan Islam. Shalat mereka, shaum mereka, zakat mereka dan haji mereka tentu diambil dari hukum-hukum fikih Islam. Namun anehnya, dalam muamalah, mereka mengambil hukum-hukum di luar Islam. Dalam ekonomi dan bisnis, mereka merujuk pada teori-teori dan hukum-hukum ekonomi dan bisnis kapitalis Barat sekular yang diajarkan oleh para tokoh Yahudi seperti Adam Smith, David Ricardo, Keynes, dll. Dalam politik dan pemerintahan, mereka merujuk pada sistem demokrasi Barat sekular yang diambil dari ajaran para tokoh Kristen seperti Montesque, JJ Rousseu, Thomas Hobes, David Home dll. Dalam bidang sosial dan pendidikan, mereka pun mengacu pada teori-teori pendidikan yang diajarkan oleh para pakar pendidikan dan ahli psikologi Barat sekular.
Jelas, semua ini telah menjauhkan kaum Muslim dari ketakwaan hakiki kepada Allah SWT.
Hakikat Takwa
Berbicara tentang takwa, Ibn Abi Dunya dalam Kitab at-Taqwa mengutip pernyataan Umar bin Abbdul Aziz ra., "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan."
Takwa seperti inilah yang bisa menjadikan diri kita meraih kedudukan yang paling mulia di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).
Dalam konteks ini pula, Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur bahwa kemuliaan seseorang ada dalam ketakwaannya, sementara kehinaannya ada dalam kemaksiatannya. Tentu kemaksiatan terbesar adalah keengganan manusia untuk berhukum dengan al-Quran. Inilah juga yang dikeluhkan oleh Rasulullah saw. Beliau bahkan mengadukan kepada Allah SWT umatnya yang mengabaikan al-Quran, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan al-Quran ini suatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan [25]: 30).
Menurut mufassir ternama, Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’sn al-‘Azhim (2/631), di antara sikap mengabaikan al-Quran adalah tidak mengamalkan isinya dan tidak mau mengambil hukum-hukum yang ada di dalamnya.
Atas dasar itu, kita harus segera kembali pada al-Quran. Inilah wujud ketakwaan hakiki kita.
‘Takwa Kolektif’
Ketakwaan tentu harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga pada ranah masyarakat dan negara. Inilah yang boleh disebut sebagai “ketakwaan kolektif”. Ketakwaan kolektif ini hanya mungkin bisa diwujudkan dalam institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Institusi negara itu tidak lain adalah Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah inilah yang pernah dipraktikan secara nyata oleh Khulafur Rasyidin ridwanulLah ‘alayhim dulu.
Sayang, hari ini khilafah dikriminalisasi. Organisasi yang mendakwahkan kewajiban menegakkan khilafah dibubarkan. Para aktivisnya dipersekusi dengan tuduhan sepihak tanpa bukti, yakni anti Pancasila. Padahal jelas, khilafah adalah ajaran Islam. Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, Ash-Shawa’iq al-Muhriqah (hlm. 7), kewajiban menegakkan Khilafah bahkan telah menjadi Ijmak Sahabat. Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Mustashfa (1/14), Ijmak Sahabat itu tidak bisa di-naskh (dihapuskan/dibatalkan). Jika Pancasila selama ini diklaim tidak bertentangan dengan Islam, logikanya khilafah yang merupakan ajaran Islam tidak boleh dituding bertentangan dengan Pancasila.
Selain wajib, kembalinya Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira Rasulullah saw., sebagaimana sabda beliau:
ثُمّ سَتَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad).
Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba. Allahu akbar! []
============================
-----------------------
Pimpinan dan Seluruh Staf Buletin Kaffah mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
-----------------------
============================
MEWUJUDKAN TAKWA INDIVIDU, MASYARAKAT DAN NEGARA
Saat ini kita sudah berada di sepertiga akhir Ramadhan.
Sebagaimana telah dimaklumi, shaum Ramadhan adalah salah satu sarana yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi pribadi-pribadiyang bertakwa. Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).
Namun demikian, puasa Ramadhan saja tidaklah cukup. Faktanya, selain puasa Ramadhan, Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim banyak hal agar mereka benar-benar bertakwa (la’allakum tattqun). Di antaranya:
Pertama, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk beribadah kepada Allah SWT. Inilah yang Allah SWT tegaskan:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 21).
Ibadah tentu bukan sekadar menjalankan ritualitas saja seperti shalat, shaum, zakat dan haji. Ibadah mencakup totalitas penghambaan/pengabdian kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh syariah-Nya. Inilah yang Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi (menghambakan diri) kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [52]: 56).
Mengomentari ayat di atas, Ibnu Hazm dalam kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal (3/80), menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah agar mereka menjadi hamba (abdi) Allah SWT dengan melaksanakan semua hukum-Nya dan patuh pada apa saja yang telah Dia tetapkan atas mereka. Ibadah seperti inilah yang bisa mengantarkan setiap Muslim menjadi pribadi yang bertakwa.
Kedua, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menerapkan semua hukum Allah SWT, di antaranya hukum qishash. Inilah yang Allah SWT tegaskan:
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Di dalam hukum qishash itu terdapat kehidupan, wahai kaum yang berakal, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 179).
Jika hukum qishash yang menyangkut hak adami (manusia) saja wajib diterapkan, apalagi hudud yang menyangkut hak Allah—seperti hukum cambuk/rajam bagi pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, dll. Semua itu tentu lebih wajib untuk diterapkan. Penerapan hukum qishash, juga semua hukum Allah SWT yang lain, pasti akan membuat orang takut untuk berbuat dosa dan kriminal. Inilah yang antara lain ditegaskan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya, Jami al-Bayan fî Ta’wil al-Qur’an (3/382). Singkatnya, penerapan hukum-hukum Allah SWT akan memaksa siapapun untuk menjadi orang yang bertakwa.
Ketiga, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk hanya mengikuti jalan Islam, dan tidak mengikuti jalan-jalan selain Islam. Ini pula yang Allah SWT tegaskan:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena bisa menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah kalian diperintahkan agar kalian bertakwa (QS al-An’am [6]: 153).
Menurut Imam as-Samarqandi dalam kitab tafsirnya, Bahr al-‘Ulum (1/495), ayat ini bermakna, bahwa Islam sebagai agama yang Allah ridhai adalah jalan yang lurus. Karena itu ikutilah jalan Islam. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, yakni jalan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya dengan menetapi jalan Islam dan menjauhi jalan-jalan selain Islam, kita akan menjadi orang yang bertakwa.
Sayang, banyak orang, meski mengaku memeluk Islam, tidak sepenuhnya mengambil jalan Islam. Dalam hal ibadah ritual mereka memang mengambil jalan Islam. Shalat mereka, shaum mereka, zakat mereka dan haji mereka tentu diambil dari hukum-hukum fikih Islam. Namun anehnya, dalam muamalah, mereka mengambil hukum-hukum di luar Islam. Dalam ekonomi dan bisnis, mereka merujuk pada teori-teori dan hukum-hukum ekonomi dan bisnis kapitalis Barat sekular yang diajarkan oleh para tokoh Yahudi seperti Adam Smith, David Ricardo, Keynes, dll. Dalam politik dan pemerintahan, mereka merujuk pada sistem demokrasi Barat sekular yang diambil dari ajaran para tokoh Kristen seperti Montesque, JJ Rousseu, Thomas Hobes, David Home dll. Dalam bidang sosial dan pendidikan, mereka pun mengacu pada teori-teori pendidikan yang diajarkan oleh para pakar pendidikan dan ahli psikologi Barat sekular.
Jelas, semua ini telah menjauhkan kaum Muslim dari ketakwaan hakiki kepada Allah SWT.
Hakikat Takwa
Berbicara tentang takwa, Ibn Abi Dunya dalam Kitab at-Taqwa mengutip pernyataan Umar bin Abbdul Aziz ra., "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan."
Takwa seperti inilah yang bisa menjadikan diri kita meraih kedudukan yang paling mulia di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).
Dalam konteks ini pula, Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur bahwa kemuliaan seseorang ada dalam ketakwaannya, sementara kehinaannya ada dalam kemaksiatannya. Tentu kemaksiatan terbesar adalah keengganan manusia untuk berhukum dengan al-Quran. Inilah juga yang dikeluhkan oleh Rasulullah saw. Beliau bahkan mengadukan kepada Allah SWT umatnya yang mengabaikan al-Quran, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan al-Quran ini suatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan [25]: 30).
Menurut mufassir ternama, Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur’sn al-‘Azhim (2/631), di antara sikap mengabaikan al-Quran adalah tidak mengamalkan isinya dan tidak mau mengambil hukum-hukum yang ada di dalamnya.
Atas dasar itu, kita harus segera kembali pada al-Quran. Inilah wujud ketakwaan hakiki kita.
‘Takwa Kolektif’
Ketakwaan tentu harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga pada ranah masyarakat dan negara. Inilah yang boleh disebut sebagai “ketakwaan kolektif”. Ketakwaan kolektif ini hanya mungkin bisa diwujudkan dalam institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Institusi negara itu tidak lain adalah Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Khilafah inilah yang pernah dipraktikan secara nyata oleh Khulafur Rasyidin ridwanulLah ‘alayhim dulu.
Sayang, hari ini khilafah dikriminalisasi. Organisasi yang mendakwahkan kewajiban menegakkan khilafah dibubarkan. Para aktivisnya dipersekusi dengan tuduhan sepihak tanpa bukti, yakni anti Pancasila. Padahal jelas, khilafah adalah ajaran Islam. Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, Ash-Shawa’iq al-Muhriqah (hlm. 7), kewajiban menegakkan Khilafah bahkan telah menjadi Ijmak Sahabat. Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Mustashfa (1/14), Ijmak Sahabat itu tidak bisa di-naskh (dihapuskan/dibatalkan). Jika Pancasila selama ini diklaim tidak bertentangan dengan Islam, logikanya khilafah yang merupakan ajaran Islam tidak boleh dituding bertentangan dengan Pancasila.
Selain wajib, kembalinya Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira Rasulullah saw., sebagaimana sabda beliau:
ثُمّ سَتَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad).
Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba. Allahu akbar! []
============================
-----------------------
Pimpinan dan Seluruh Staf Buletin Kaffah mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
-----------------------
============================
Kamis, 07 Juni 2018
Menangislah....
💦💦 🌃🌌 *MENANGISLAH*....💧💧
➰➰〰〰〰〰〰〰〰➰➰
*Menangislah ...*
Sebelum Ramadhan Pergi ...
Kita pernah berjanji mengkhatamkan Qur'an..
Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua beranjak dari juz awalan..
*Menangislah..*
Sebelum Ramadhan Pergi ...
Kita pernah berjanji menyempurnakan qiyamullail yang bolong penuh tambalan ...
Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua menyempurnakan bilangan ...
*Menangislah..*
Sebelum Ramadhan Pergi ...
Kita berdoa sejak Rajab dan Sya'ban agar disampaikan ke Ramadhan..
Setelah Ramadhan di akhir hitungan..
Ternyata masih juga tak bisa menahan dari kesia-siaan..
Ternyata masih juga tak bisa menambah ibadah sunnah..
Bahkan..
Hampir terlewat dari menunaikan yang wajib...
*Menangislah wahai saudaraku ...*
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir..
Bahwa ada satu hamba yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena..
Sehingga ramadhan yang mulia pun tersia-sia.
*Menangislah..*
Dan tuntaskan semuanya malam ini..
atas i'tikaf yang belum juga kita kerjakan..
atas lembaran Qur'an yang menunggu di khatamkan..
atas lembaran mata uang yang menunggu di salurkan..
atas sholat sunnah yang menunggu jadi amal tambahan..
*Menangislah..*
Lebih keras lagi... 😭
Karena Allah tidak menjanjikan apapun untuk ramadhan tahun depan, apakah kita masih disertakan...
☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
Barakallah fikum.
✒ Ditulis oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, MA حفظه الله تعالى
***
➰➰〰〰〰〰〰〰〰➰➰
*Menangislah ...*
Sebelum Ramadhan Pergi ...
Kita pernah berjanji mengkhatamkan Qur'an..
Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua beranjak dari juz awalan..
*Menangislah..*
Sebelum Ramadhan Pergi ...
Kita pernah berjanji menyempurnakan qiyamullail yang bolong penuh tambalan ...
Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua menyempurnakan bilangan ...
*Menangislah..*
Sebelum Ramadhan Pergi ...
Kita berdoa sejak Rajab dan Sya'ban agar disampaikan ke Ramadhan..
Setelah Ramadhan di akhir hitungan..
Ternyata masih juga tak bisa menahan dari kesia-siaan..
Ternyata masih juga tak bisa menambah ibadah sunnah..
Bahkan..
Hampir terlewat dari menunaikan yang wajib...
*Menangislah wahai saudaraku ...*
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir..
Bahwa ada satu hamba yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena..
Sehingga ramadhan yang mulia pun tersia-sia.
*Menangislah..*
Dan tuntaskan semuanya malam ini..
atas i'tikaf yang belum juga kita kerjakan..
atas lembaran Qur'an yang menunggu di khatamkan..
atas lembaran mata uang yang menunggu di salurkan..
atas sholat sunnah yang menunggu jadi amal tambahan..
*Menangislah..*
Lebih keras lagi... 😭
Karena Allah tidak menjanjikan apapun untuk ramadhan tahun depan, apakah kita masih disertakan...
☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
Barakallah fikum.
✒ Ditulis oleh Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, MA حفظه الله تعالى
***
Jumat, 01 Juni 2018
PENDEWASAAN HIDUP
🌴 *_Inspirasi Pagi_* 🌴
*PENDEWASAAN HIDUP*
Mau belajar *SABAR* ? Nanti kita akan ketemu orang-orang *yg keras kepala* kepada kita.
Mau belajar *MEMAAFKAN* ? Nanti kita akan ketemu orang-orang yang *menyakiti kita.*
Mau belajar *MEMBERI* ? Sebentar lagi kita akan dihadapkan orang-orang yang *ber-kekurangan.*
Mau *RENDAH HATI* ? Tunggu saja, akan ada orang-orang yang *merendahkan diri kita.*
Kabar buruknya,
*"HIDUP INI TAK AKAN ADA YANG SEMPURNA."*
Kabar baiknya,
*"KITA TAK PERLU HIDUP YG SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATI-NYA!"*.
Apapun yg sedang kita hadapi, itulah *PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA*.
*JANGAN MARAH & MENGGERUTU*, tetapi belajarlah dan merespon dengan benar.
*HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN DAN KEDEWASAAN !!!*
Pembelajaran hanya bisa di peroleh pada situasi yang tidak sesuai harapan kita, bukan disaat kenyamanan.
Jadilah *"murid kehidupan"* dgn *BELAJAR BERSYUKUR & MENGAMBIL HAL YANG POSITIF* dari setiap peristiwa yg kita hadapi.
# Berusahalah *SABAR* dalam *kesedihan.*
# Berusahalah *SABAR* dalam *kekecewaan.*
# Berusahalah *SABAR* dalam *kesakitan.*
# Berusahalah *SABAR* dalam *musibah.*
# Berusahalah *SABAR* dalam menjalani *ujian hidup.*
*! SABAR* itu *susah*.
*! SABAR* itu *capek.*
*! SABAR* itu *sakit.*
*! SABAR* itu *bikin stress,* akan tetapi jika kita mampu melewatinya,
*m a k a SABAR* itu akan menjadi sebuah *KEINDAHAN & ARTI* sebuah *KEHIDUPAN.*
Ada kalanya dibutuhkan *"senyuman"* untuk *menangis.*
Ada kalanya dibutuhkan *"air mata"* untuk *bahagia.*
Ada kalanya dibutuhkan *"canda"* untuk *melepas lelah.*
Ada kalanya dibutuhkan *"penat"* untuk mengukur arti *kedamaian.*
Ada kalanya dibutuhkan *"musuh"* untuk menjadi *korektor.*
Ada kalanya dibutuh-kan *"teman"* untuk *berbagi.*
*Orang-orang baik yang Allah ijinkan hadir di kehidupan kita adalah anugerah Allah agar kita merasakan kebahagiaan dari-Nya.*
*Orang-orang tidak baik yang Allah ijinkan hadir di kehidupan kita adalah anugerah Allah agar kita belajar menjadi bijaksana bersama-Nya.*
🌴📚✒🌏☝🕋🌴
*PENDEWASAAN HIDUP*
Mau belajar *SABAR* ? Nanti kita akan ketemu orang-orang *yg keras kepala* kepada kita.
Mau belajar *MEMAAFKAN* ? Nanti kita akan ketemu orang-orang yang *menyakiti kita.*
Mau belajar *MEMBERI* ? Sebentar lagi kita akan dihadapkan orang-orang yang *ber-kekurangan.*
Mau *RENDAH HATI* ? Tunggu saja, akan ada orang-orang yang *merendahkan diri kita.*
Kabar buruknya,
*"HIDUP INI TAK AKAN ADA YANG SEMPURNA."*
Kabar baiknya,
*"KITA TAK PERLU HIDUP YG SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATI-NYA!"*.
Apapun yg sedang kita hadapi, itulah *PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA*.
*JANGAN MARAH & MENGGERUTU*, tetapi belajarlah dan merespon dengan benar.
*HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN DAN KEDEWASAAN !!!*
Pembelajaran hanya bisa di peroleh pada situasi yang tidak sesuai harapan kita, bukan disaat kenyamanan.
Jadilah *"murid kehidupan"* dgn *BELAJAR BERSYUKUR & MENGAMBIL HAL YANG POSITIF* dari setiap peristiwa yg kita hadapi.
# Berusahalah *SABAR* dalam *kesedihan.*
# Berusahalah *SABAR* dalam *kekecewaan.*
# Berusahalah *SABAR* dalam *kesakitan.*
# Berusahalah *SABAR* dalam *musibah.*
# Berusahalah *SABAR* dalam menjalani *ujian hidup.*
*! SABAR* itu *susah*.
*! SABAR* itu *capek.*
*! SABAR* itu *sakit.*
*! SABAR* itu *bikin stress,* akan tetapi jika kita mampu melewatinya,
*m a k a SABAR* itu akan menjadi sebuah *KEINDAHAN & ARTI* sebuah *KEHIDUPAN.*
Ada kalanya dibutuhkan *"senyuman"* untuk *menangis.*
Ada kalanya dibutuhkan *"air mata"* untuk *bahagia.*
Ada kalanya dibutuhkan *"canda"* untuk *melepas lelah.*
Ada kalanya dibutuhkan *"penat"* untuk mengukur arti *kedamaian.*
Ada kalanya dibutuhkan *"musuh"* untuk menjadi *korektor.*
Ada kalanya dibutuh-kan *"teman"* untuk *berbagi.*
*Orang-orang baik yang Allah ijinkan hadir di kehidupan kita adalah anugerah Allah agar kita merasakan kebahagiaan dari-Nya.*
*Orang-orang tidak baik yang Allah ijinkan hadir di kehidupan kita adalah anugerah Allah agar kita belajar menjadi bijaksana bersama-Nya.*
🌴📚✒🌏☝🕋🌴
Langganan:
Komentar (Atom)
Termasuk Akhlak Yang Mulia
TERMASUK AKHLAK YANG MULIA 🎙 Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata : “Tanda akhlak mulia itu ada pada 10 perkara : 1. Jarang berselisih. 2...
-
Jika kamu merasa bersyukur 👏 atas segala Rahmat Allah, jangan sungkan Tunaikanlah ibadah haji sebelum tidur.... Ini sangat menarik...
-
Kisah yang inspiratif. Seorang manager yang memiliki gaji 100 juta perbulan tengah berdiri di tepi pantai dan memandang ke arah laut, keti...
-
*🌠MUHASABAH DIRI TENTANG SEPULUH LANGKAH MEMBUAT RIZKI MENGHAMPIRI KITA*🌈 Sebagai mana kita ketahui Allah SWT berfirman: وَّيَرْزُقْ...