*Selamat Kembali Para Petarung*
Kalah, tentu tak menyenangkan tetapi tiada yang tersesali jika semua ikhtiar baik telah dilakukan. Doa-doa telah dipanjatkan.
Petarung, pasti berharap menang tetapi lawan pun demikian. Kalah, hanyalah sebuah proses dari rangkaian sukses yang akan dicapai berikutnya. Kalah, adalah proses belajar.
Zaman berubah, dimana politik menjadi daya upaya untuk mengalahkan lawan dengan cara-cara yang terkadang di luar nalar dan bertentangan nurani.
Kita konsisten untuk menang dengan cara baik. Kita bertanggungjawab memberi tauladan bagaimana kemenangan diraih dengan simpatik, termasuk memberi pelajaran bagaimana lawan mengalahkan kita dengan susah payah.
Kehormatan dalam bertarung adalah tujuan, hasil menang ataupun kalah hanyalah efek.
Integritas, dimana kata sejalan dengan perbuatan adalah kehormatan seorang petarung-siceppa lilana nennia batela' ajena
Komitmen diri untuk menjalani proses politik dengan cara-cara baik sesungguhnya adalah kemenangan. Setidaknya menang melawan cara-cara tak terhormat dengan menjadikan uang untuk merayu pemilih, membunuh karakter pesaing dengan fitnah.
Kita konsisten untuk memberi harapan kepada rakyat dengan visi kemajuan, kebangkitan dan janji kesejahteraan.
Kita konsisten untuk menjalani proses ini dengan cara-cara baik, meramu strategi dan taktik jitu untuk menang tetapi tidak dengan cara menyakiti. Pantang kita menghalalkan segalah cara.
Mappideceng adalah tujuan. Tidaklah mungkin berkah suatu kemenangan jika siasatnya tak elok.
Kemewahan seorang politisi adalah komitmen-toddopuli. Tanpa itu, tidaklah berarti kepercayaan diletakkan di pundaknya.
Bukan hanya kita yang kalah jika itu kalah, bukan hanya kita yang menang jika itu menang.
Kita memiliki saudara yang mendukung, baik terjun bersama di medan tempur maupun berteguh harapan dan doa untuk kita. Jangan patahkan semangatnya dengan berputus asa.
Ingat, semua ingin dimaksimalkan. Tetapi terkadang saudara kita hanya mampu menguatkan harapan dan memanjatkan doa. Tentu, bukan karena tak mau tetapi lebih karena tak mampu.
Sebagai saudara, tak terbersit secercah khianat untuk meninggalkan. Istirahatlah, untuk etape selanjutnya yang panjang. Kembalilah, kami menanti untuk memelukmu hangat.
Bagi saudaraku yang menang jangan gembira berlebih sebab di pundakmu terpikul amanah yang sangat besar. Hormatilah yang kalah sebab mereka telah memberi pengalaman bertempur yang hebat.
Buat yang kalah, jangan larut dalam sesal ataupun sedih yang mendalam termasuk menyimpan dendam kesumat. Terbuka kesempatan yang luas untuk bertarung di medan selanjutnya.
Sabar adalah bumi, keberanian adalah matahari dan langit yang luasnya tak berbatas adalah kesempatan bagi yang menolak kalah untuk kembali melukis harapan.
(Copas : FB Andi Irwan Nasir)